Feeds:
Tulisan
Komentar

Kartu Masuk Surga (KMS)

dsc03873.jpg

Hidup ini memang susah, tapi jangan di buat susah!

Setelah 4 bulan tanpa Ragab (Rapat Gabungan) akhirnya dewan Syuriah kembali menggelar rapat itu pada 19 Agustus 2007 lalu. Kali ini Ragab tidak ngampung di rumah dewan Syuriah tapi di Flat sewaan NU. Yang hadirpun luamyan banyak: Ada Pak Fadlan, Pak Syai, Mbah Jamal, Kang Mahmudi, Ust. Taufik, Mas Zawawi, Om Aziz, Kak Aang dll. Sedang dari Tanfidziyah cuma diwakili Pak Muhlason, ML. Qodri dan Saya sendiri. Sedangkan Mas Romli ada rapat di KBRI sehingga absen.

 

Malam itu kesannya beda. Rasanya enak dan renyah. Terkadang serius tapi tak jarang juga ketawa-ketiwi karena lelucon-lelucon anggota rapat. Ya, rapat NU biasanya memang begitu. Gak pernah rapat dalam keadaan mencekam. Lanjut Baca »

Ngelmu Fekih

 

Manusia adalah makhluk sosial, demikian Ibnu Kholdûn menulis dalam salah satu ruas magnum opus-nya, “al-Muqaddimah”. Dari ungkapan ini, kita dapat menyimpulkan bahwa nurani setiap manusia membutuhkan sebuah lingkungan, teman, dan perangkat-perangkat sosial lainnya. Jika sebuah komunitas sosial sudah terbentuk, maka secara intuitif, komunitas tersebut merindukan sebuah tatanan yang mengikat dan yang membebaskan sekaligus. Bebas sebagai individu yang sempurna dan terikat karena ia juga include dalam tatanan yang disepakati bersama. Apabila seperti itu karakter setiap manusia, maka adalah wajar jika dalam menurunkan syari’at, Allah membedakan antara umat yang satu dengan lainnya. Lanjut Baca »

Sajak kerinduan

 

رسالة العشق


أنى ولم ترها تهذي! فقلت لهم … إن الفؤاد يرى ما لا يرى البصر

أصبحت كالحائم الحران مجتنباً … لم يقض ورداً ولا يرجى له صدر

***

يزهدني في حب عبدة معشر … قلوبهم فيها مخالفة قلبي

فقلت دعوا قلبي وما اختار وارتض … فبالقلب لا بالعين يبصر ذو الحب

فما تبصر العينان في موضع الهوى… ولا تسمع الأذنان إلا من القلب

وما الحسن إلا كل حسن دعا الصبا … وألف بين العشق والعاشق الصب

***

يا قلب ما لي أراك لا تقر … إياك أغني وعندك الخبر

***

بابي طلوعك ايها القمر … حتى متى يا بدر تنتظر

يا مجملاً فيه الجمال له … خضر كحظي منه مختصر

العشق أول مرة نظر … كم خاض في دم عاشق نظر

***

قد فسد العشق وهان الهوى … وصار من يعشق مستعجلا

يريد أن ينكح أحبابه … من قبل أن يشهد أو ينحلا

***

 

Aboul Ma’ali al-Juwaini

Tak ada yang lebih unggul dari ilmu. Para raja adalah penguasa rakyat, sedang ulama adalah pengendali raja-raja itu. (Aboul Aswad ad-Du`ali – Al-‘Iqd al-Farid)

 

 

Dalam sejarah ada dua kutub yang memiliki peran sentral pada setiap gerak-gerik sosial; raja dan kyai. Pada masa-masa awal dua kutub ini bertemu dalam satu sosok –seperti nabi dan juga khulafa’ ur rasyidin- sehingga interaksi antara dua kepentingan kutub itu begitu harmonis. Di masa-masa itu seorang raja adalah seorang kyai. Biasanya orang menyebut masa-masa itu sebagai periode emas; suatu zaman di mana tatanan etik, sosial dan politik terbalut dalam kado yang apik dan tersusun rapi. Dalam bahasa al-Mawardi raja adalah penjaga gerbang agama dan pemegang kendali dunia. Lanjut Baca »

Mu’tazilien

 

Prolog
Penelusuran kembali terhadap puing-puing pemikiran teologi Muktazilah dan Asy’ariah, menandakan sebuah usaha untuk memahami cara pandang teologis kebanyakan umat Islam. Sajarah telah mencatat bahwa dua sekte di atas adalah sekte besar, yang –sedikit banyak- berhasil mewarnai pola dan karakter umat Islam. Sebab itulah, studi-studi kontemporer terhadap dua aliran tersebut –baik Islam maupun orientalis- telah banyak dilakukan. Dan yang menarik, pembacaan atas turats Muktazilah dan Asy’ariah tersebut telah menghasilkan kesimpulan yang berbeda satu dengan lainnya seiring dengan perbedaan sudut lihat masing-masing. Oleh karena itu, dalam kajian singkat ini, penulis berharap dapat merangkum kesimpulan-kesimpulan yang berbeda tersebut dalam kerangka komparatif meskipun dalam bentuknya yang paling sederhana. Lanjut Baca »

Puasa [titik temu agama-agama]

 

Bulan Ramadhan sudah berada di ambang pintu. Berbagai penyambutan yang riuh dan ramai bertubi-tubi dilaksanakan di seluruh pojok bumi. Bentuk penyambutan ini pun berbeda-beda antara satu dengan lainnya. Di Mesir kita melihat tenda-tenda darurat yang berlabel Ma’idatu `r Rahman mulai dibentang disudut-sudut masjid, persimpangan jalan hingga dipinggiran toko-toko. Ukurannya pun berbeda beda. Ada yang kecil, sedang hingga yang besar.

 

Di kalangan Masisir penyambutan terhadap bulan Ramadhan juga bernuansa lain. Kegiatan-kegiatan yang terbalut dalam acara Tarhib Ramadhan yang mengetengahkan pembagian sembako, uang hingga do’a bersama kerap kita jumpai dipusat-pusat kegiatan mahasiswa. Mungkin semua pemandangan di atas bukanlah hal asing bagi kita, ia adalah sebuah rutinitas tahunan. Lanjut Baca »

Tulisan Sebelumnya »